WAY KANAN, Ungkap.id, — Bukan sekadar sebuah hajatan keluarga. Begawi Mancor Jaman yang digelar Ikroni gelar Sunan Kemala Raja dari Kampung Kebelah, Buay Pemuka Pangeran Udik, Kecamatan Blambangan Umpu, menjadi momentum penting dalam menjaga marwah adat sekaligus mempererat tali silaturahmi para penyimbang dan tokoh adat di Kabupaten Way Kanan.Jumat (11/9)
Rangkaian begawi berlangsung dalam suasana sakral dan penuh kebersamaan. Dari prosesi adat, sidang adat, cangget, Manjau hingga ditutup dengan setumbukan, seluruh rangkaian menghadirkan para penyimbang dan tokoh adat dari berbagai wilayah di Kabupaten Way Kanan.
Kehadiran Bupati Way Kanan Ayu Asalasiyah, S.Ked, bersama Sekretaris Daerah Kabupaten Way Kanan Machiavelli Herman Tarmizi, S.STP., M.Si., semakin menambah semarak sekaligus memberi arti penting bagi pelaksanaan Begawi Mancor Jaman tersebut.
Kehadiran pimpinan daerah bersama para tokoh adat menunjukkan bahwa pelestarian adat dan budaya Lampung bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga atau masyarakat adat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas dan kekayaan budaya Kabupaten Way Kanan.
Puncak rangkaian begawi menjadi semakin bermakna ketika M. Shohih Rantabai, putra Ikroni gelar Sunan Kemala Raja dan Ibu Intan Baiduri gelar Sunan Pogor Marga, menjalani prosesi pengangkatan sebagai Raja Kampung Kebelah Buay Pemuka Pangeran Udik.
Prosesi tersebut dilakukan di hadapan para penyimbang dan tokoh adat. Iringan Tari Negil turut menghidupkan suasana, menjadi simbol bahwa sebuah tradisi tidak hanya diwariskan melalui kata-kata, tetapi melalui prosesi, kebersamaan dan penghormatan terhadap adat.
Bupati Ayu Asalasiyah dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Begawi Mancor Jaman yang masih mampu mempertahankan nilai-nilai adat dan budaya Lampung di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, kegiatan seperti ini memiliki nilai penting karena menjadi sarana memperkenalkan adat istiadat kepada generasi muda sekaligus mempererat hubungan antar masyarakat dan para penyimbang.
Bupati berharap tradisi adat Lampung di Way Kanan dapat terus dilestarikan, bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai bagian dari identitas masyarakat yang tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
“Pelestarian adat dan budaya merupakan tanggung jawab kita bersama. Generasi muda harus mengetahui, memahami dan mencintai adat istiadat yang menjadi bagian dari jati diri masyarakat Way Kanan,” demikian pesan Bupati dalam kesempatan tersebut.
Sementara itu, kehadiran anggota DPD RI Bustami Zainudin turut memberi warna tersendiri. Bustami mengaku bahagia dapat menyaksikan secara langsung salah satu tradisi adat Lampung yang saat ini mulai jarang digelar secara lengkap.
“Acara seperti ini sudah sangat jarang dilakukan masyarakat. Kami merasa bahagia bisa hadir dan ikut menyaksikan serta mendukung pelestarian adat istiadat Lampung, khususnya di Way Kanan,” ujar Bustami.
Bagi keluarga besar Sunan Kemala Raja, Begawi Mancor Jaman tersebut menjadi sebuah penanda penting. M. Shohih Rantabai tidak hanya diangkat dalam sebuah prosesi, tetapi juga diperkenalkan kepada para penyimbang dan tokoh adat sebagai bagian dari keberlanjutan adat Kampung Kebelah.
Rangkaian acara yang kemudian ditutup dengan setumbukan menjadi gambaran kuat bagaimana adat masih menjadi ruang untuk mempertemukan keluarga, penyimbang, tokoh masyarakat, pemerintah daerah dan generasi penerus.
Di tengah zaman yang terus berubah, Begawi Mancor Jaman Sunan Kemala Raja seolah mengingatkan satu hal: adat tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus terus dihidupkan agar generasi berikutnya masih mengenal dari mana mereka berasal.
(Oni Bancong)
Social Footer