LAMPUNG SELATAN, Ungkap.id,– Polemik menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Merbau Mataram 2 Pasar Ijo, Kecamatan Merbau Mataram, Kabupaten Lampung Selatan, memasuki babak baru.
Sebelumnya, sejumlah Kelompok Penerima Manfaat (KPM) memprotes menu yang mereka terima karena menemukan daging ayam dalam kondisi diduga tidak layak konsumsi dan terdapat larva. Keluhan tersebut mencuat pada Jumat (7/8/2026).
Temuan tersebut dilaporkan oleh KPM B3 di Dusun Merpen, Desa Karang Jaya. Selain itu, KPM di Dusun Tanjung Menang juga mengeluhkan adanya makanan yang disebut sudah dalam kondisi basi saat diterima.
Kondisi tersebut sontak memunculkan pertanyaan publik mengenai proses pengolahan, penyimpanan, pemorsian hingga distribusi makanan MBG kepada ribuan penerima manfaat.
Namun demikian, temuan larva tersebut belum dapat dipastikan berasal dari dapur SPPG. Pasalnya, terdapat jeda waktu antara makanan didistribusikan hingga laporan temuan diterima, sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan sumber dan penyebab munculnya larva tersebut.
Terlebih, dari total sekitar 2.402 sasaran penerima manfaat, laporan mengenai adanya larva tersebut disebut hanya berasal dari satu KPM.
Kepala SPPG Minta Maaf dan Janji Perketat Pengawasan
Kepala SPPG Merbau Mataram 2, Fandi Zuliansyah, menyampaikan permohonan maaf kepada KPM atas adanya keluhan tersebut.
Ia juga memastikan akan melakukan evaluasi serta meningkatkan pengawasan terhadap seluruh proses penyediaan makanan.
"Ke depan kami akan lebih kontrol lagi agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali," ujar Fandi, Senin (10/8/2026).
Pernyataan tersebut menjadi langkah awal untuk melakukan evaluasi menyeluruh, mengingat program MBG berkaitan langsung dengan kualitas makanan yang dikonsumsi masyarakat.
Camat Minta SPPG Lebih Ketat
Camat Merbau Mataram, Ricky Randa Belpama, S.I.Kom., M.M., turut memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut.
Ia meminta Kepala SPPG dan ahli gizi meningkatkan pengawasan sejak proses persiapan bahan makanan hingga makanan diterima oleh KPM.
"Mulai proses hingga sampai mendistribusikan harus lebih hati-hati," tegasnya.
Camat juga meminta UPT Puskesmas Merbau Mataram melakukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi SPPG.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan seluruh tahapan pengolahan makanan berjalan sesuai standar kebersihan dan keamanan pangan.
Puskesmas Akan Cek Kondisi SPPG
Kepala UPT Puskesmas Merbau Mataram, drg. Ayu Jembar Sari, menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan higienitas ruangan, terutama pada area pemorsian dan pengemasan makanan.
Ia juga mengingatkan agar obat pembasmi serangga maupun bahan sejenis tidak ditempatkan di area pemorsian atau packing karena berpotensi menimbulkan kontaminasi terhadap makanan.
Pihak Puskesmas memastikan akan turun langsung untuk melakukan pengecekan kondisi SPPG.
Ahli Gizi Edukasi KPM Soal Batas Waktu Konsumsi
Sementara itu, Ahli Gizi SPPG Merbau Mataram 2, Anggun Pangesti, akan memberikan edukasi kepada KPM mengenai pentingnya mengonsumsi makanan segera setelah diterima.
Edukasi tersebut berkaitan dengan batas waktu konsumsi makanan yang telah didistribusikan serta upaya meminimalisir terjadinya kontaminasi silang ketika makanan sudah berada di tangan penerima manfaat.
Makanan yang telah selesai diproses dan didistribusikan tentunya memiliki batas waktu konsumsi. Karena itu, KPM diharapkan tidak menunda terlalu lama untuk mengonsumsi makanan yang telah diterima.
Publik Tunggu Hasil Pemeriksaan
Warga berharap persoalan ini tidak berhenti pada permintaan maaf semata. Mereka meminta adanya perbaikan nyata dalam sistem pengawasan, mulai dari penerimaan bahan baku, penyimpanan, proses memasak, pemorsian, hingga distribusi.
Di sisi lain, pihak SPPG juga perlu mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemeriksaan dan evaluasi secara menyeluruh, sehingga tidak terjadi kesimpulan sepihak mengenai sumber munculnya larva sebelum ada hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan jumlah sasaran mencapai sekitar 2.402 penerima manfaat, setiap tahapan penyediaan makanan harus mendapatkan pengawasan serius.
Kini publik menunggu hasil pemeriksaan Puskesmas serta langkah evaluasi SPPG Merbau Mataram 2. Apakah temuan tersebut merupakan persoalan yang terjadi di dapur, terjadi dalam proses distribusi, atau muncul setelah makanan berada di tangan KPM, masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan di lapangan.
Yang jelas, keamanan, kebersihan, kualitas dan kelayakan makanan MBG harus menjadi prioritas utama agar kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut tetap terjaga.
(TIM)
Social Footer