Breaking News

FPN RI Soroti Ketegangan Di Hutan LAMPUNG: Pnas Bumi, Gajah,Dan Masa Depan Kita‎

‎Lampung, Ungkap.id,- Forum Pemersatu Nasional Republik Indonesia  ( FPN RI) menggelar pertemuan Darurat Pengurus beserta jajaran Departemen melalui ZOOM MEETING Online pertemuan, menyusul serangkaian insiden bentrokan mematikan antara gajah liar dan warga di kawasan Suoh yang telah Viral berita oleh  Media Onlline Kejar Fakta. com dalam pemberitaan tersebut Seorang buruh tani bernama Jumadi (54), warga Desa Setia Negara, Kecamatan Baradatu, Kabupaten Way Kanan, ditemukan meninggal dunia setelah diduga mengalami interaksi dengan gajah liar di kawasan Pekon Sumber Agung, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, Kamis (25/6/2026).
‎Berbagai pihak menduga kuat proyek Pengembangan Panas Bumi (WKP) Suoh-Sekincau menjadi pemicu utama kerusuhan ekologis ini.
‎Bukan pertama kali kawasan ini terdengar berita buruk. Sejak kegiatan eksplorasi dan konstruksi dimulai beberapa tahun lalu, laporan mengenai gajah yang masuk ke pemukiman, merusak tanaman, hingga menimbulkan korban jiwa di kedua sisi terus bertambah. Warga mengaku jalur migrasi satwa terputus, sumber air dan pangan di dalam hutan menyusut drastis akibat pembukaan lahan, pembangunan jalan, serta perubahan struktur tanah dan Fungsi Hutan sebagai spons raksasa yang menyerap, menyimpan, dan melepaskan air secara bertahap. Sistem ini menjaga ketersediaan air bersih di dalam tanah sekaligus mencegah terjadinya banjir dan tanah longsor mulai terdampak. 
‎Di sisi lain, pengembang dan pihak berwenang menegaskan proyek ini penting untuk ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta membuka lapangan kerja baru di daerah yang masih tertinggal. Mereka menyatakan telah menyusun rencana pengelolaan lingkungan dan penanganan konflik satwa, namun kenyataan di lapangan menunjukkan upaya tersebut belum membuahkan hasil nyata.
‎Inilah persoalan mendasar yang dibahas dalam Forum Pemersatu Nasional: pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan maupun keamanan masyarakat. Indonesia adalah negara berkeanekaragaman hayati tinggi, sekaligus negara yang membutuhkan percepatan pembangunan. Namun pertumbuhan yang hanya mengejar angka tanpa mempedulikan keseimbangan alam justru akan menimbulkan masalah yang lebih besar dan biaya pemulihan jauh lebih mahal di masa depan.
‎Gajah Sumatera adalah satwa yang dilindungi dan terancam punah. Keberadaannya bukan sekadar kekayaan alam, melainkan penanda kesehatan ekosistem. Jika hutan rusak dan satwa terdesak, maka warga yang tinggal di sekitar kawasan itu juga akan terus berada dalam bahaya. Di sini letak persatuan kita diuji: apakah kita mampu mendengarkan suara warga yang ketakutan, serta memahami kebutuhan satwa yang kehilangan rumah, atau hanya akan terus memaksakan proyek tanpa perbaikan menyeluruh?
‎Forum ini menegaskan bahwa jalan keluar bukanlah menutup proyek seketika atau membiarkan konflik terus berlanjut. Yang dibutuhkan adalah evaluasi mendalam, peninjauan ulang jalur pembangunan, pemulihan koridor migrasi satwa, serta pelibatan masyarakat lokal secara penuh dalam setiap tahapan kegiatan. Pengawasan harus diperketat, dan dampak lingkungan harus dipantau secara terbuka dan bertanggung jawab.
‎Persatuan bangsa tidak hanya terjalin dalam perayaan, melainkan juga saat kita menghadapi masalah bersama dengan rasa adil dan bijaksana. Di Suoh-Sekincau, kita tidak sedang memilih antara energi atau satwa, antara pembangunan atau keselamatan warga. Kita sedang menentukan cara kita melangkah ke depan: apakah sebagai bangsa yang cerdas menjaga warisan alam, atau sekadar menjadi saksi hilangnya satu per satu kekayaan yang Tuhan titipkan kepada kita.(rls) 
‎Oleh: Penulis Opini Cecep Rusdiono 
‎Lampung, 26 Juni 2026

Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close