Breaking News

Serba serbi Jurnalis: Ketika Narasumber Plin-Plan! Hari Ini Memuji, Besok Komplain atas Berita yang Sama

Oleh: Sopyanto, pegiat media

Lampung, Ungkap.id, - Dalam dunia jurnalistik, kritik dan tekanan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari profesi wartawan. Namun ada satu kondisi yang kerap membuat insan pers geleng kepala, yakni ketika narasumber berubah sikap secara drastis terhadap berita yang sama. Hari ini memuji setinggi langit, besok justru melayangkan komplain bahkan membawa persoalan ke ranah hukum.

Fenomena narasumber “plin-plan” seperti ini bukan lagi hal asing di kalangan wartawan. Terutama dalam pemberitaan sensitif seperti dugaan perselingkuhan, konflik pribadi, persoalan rumah tangga, hingga kasus yang menyeret nama pejabat atau tokoh tertentu.

Tidak sedikit wartawan yang awalnya mendapat apresiasi langsung dari narasumber usai berita tayang. Bahkan ada narasumber yang dengan antusias membagikan berita tersebut ke media sosial pribadi sambil memuji karya jurnalistik wartawan.

“Mantap… Saya bantu UP yak,” tulis narasumber, lalu menyebarluaskan berita yang sebelumnya dianggap bagus, berimbang, dan profesional.
Namun ironisnya, berselang satu hari kemudian, situasi berubah total. Narasumber yang sebelumnya memuji mulai melontarkan keberatan. Berita yang sama tiba-tiba dianggap merugikan, menyudutkan, bahkan disebut mencemarkan nama baik.

Tidak berhenti di situ, sebagian narasumber bahkan membawa persoalan tersebut ke tingkat lebih jauh. Mulai dari mengajukan komplain resmi, mengadu ke Dewan Pers, hingga melaporkan wartawan ke Polda, meskipun isi berita tidak berubah sedikit pun dari versi yang sebelumnya mereka puji.

Padahal dalam banyak kasus, berita tersebut dibuat melalui proses jurnalistik yang benar. Ada wawancara, konfirmasi, verifikasi data. Artinya, wartawan bekerja berdasarkan fakta dan prosedur, bukan berdasarkan asumsi atau opini pribadi.

Perubahan sikap mendadak ini sering dipicu oleh tekanan lingkungan sekitar. Setelah berita viral dan menjadi konsumsi publik, narasumber mulai mendapat komentar dari keluarga, rekan kerja, pasangan, atau pihak lain yang merasa terganggu dengan pemberitaan tersebut. Akibatnya, wartawan menjadi sasaran empuk untuk disalahkan.

Dalam kasus dugaan perselingkuhan misalnya, narasumber awalnya merasa diuntungkan karena diberi ruang menyampaikan versinya kepada publik. Namun ketika reaksi masyarakat mulai ramai dan tekanan sosial meningkat, arah sikap berubah. Wartawan yang sebelumnya dipuji justru dianggap sebagai pihak yang memperkeruh keadaan.

Fenomena ini menjadi resiko nyata dalam profesi jurnalistik. Wartawan bukan hanya dituntut mampu menulis berita secara profesional, tetapi juga harus siap menghadapi perubahan emosi dan sikap narasumber yang tidak konsisten.

Karena itu, dokumentasi menjadi tameng penting bagi jurnalis. Rekaman wawancara, bukti chat konfirmasi, tangkapan layar apresiasi narasumber,  harus disimpan dengan baik. Semua itu menjadi bentuk perlindungan ketika muncul komplain atau laporan yang tidak sesuai fakta.

Selama karya jurnalistik dibuat sesuai fakta, berimbang, dan mematuhi kode etik pers, maka wartawan memiliki landasan kuat dalam menjalankan tugasnya.

Pada akhirnya, menjadi wartawan memang penuh resiko. Hari ini dipuji karena dianggap membantu, besok disalahkan karena berita menimbulkan dampak sosial. Namun di tengah semua dinamika itu, satu hal yang harus tetap dijaga insan pers adalah integritas. Sebab wartawan bekerja untuk menyampaikan fakta kepada publik, bukan untuk mengikuti perubahan suasana hati narasumber. (Rls)

Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close