Ketika kapak tersebut jatuh dan menancap di satu titik, tempat itu kemudian dianggap sebagai lokasi yang telah ditentukan. Sejak saat itu, Negeri Kepayungan pun berubah nama menjadi Mesir. Dalam penyebutan masyarakat Way Kanan, nama Mesir lebih akrab diucapkan sebagai “Meseer”. Lokasi pertama jatuhnya kapak tersebut hingga kini tetap dijaga kesakralannya. Masyarakat meyakini bahwa tempat itu tidak boleh dibangun apa pun dan tidak boleh dikotori. Tanah tersebut diyakini selalu dalam keadaan bersih sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus menjaga nilai adat. Selain itu, makam Tuan Syech juga menjadi bagian penting dari sejarah dan kepercayaan masyarakat setempat. Makam yang terletak di dekat Kampung Mesir Ilir ini dikenal sebagai makam keramat dan hingga kini masih banyak dikunjungi masyarakat untuk berziarah.
Keunikan dari makam ini adalah tidak diperbolehkannya pembangunan atap atau bangunan pelindung, sebagaimana yang umum terdapat pada makam keramat lainnya. Menurut informasi yang berkembang di masyarakat, setiap upaya untuk membangun pelindung di atas makam tersebut selalu mengalami kegagalan, baik roboh maupun hilang secara misterius. Hal ini semakin menguatkan keyakinan masyarakat akan kesakralan tempat tersebut. Kisah Tiyuh Mesir di Bahuga ini bukan sekadar cerita asal-usul, tetapi juga mencerminkan kuatnya hubungan masyarakat dengan leluhur, adat istiadat, serta kepercayaan yang terus dijaga hingga kini sebagai bagian dari identitas budaya di Kabupaten Way Kanan. (Rls)


Social Footer