Lampung, Ungkap.id,- Pancasila kini seperti mantra yang diucap tergesa, tak lagi dipahami maknanya. Ia hadir di dinding-dinding kekuasaan, tapi absen di perut rakyat. Falsafah hidup itu diperlakukan seperti dekorasi—indah dari jauh, hampa saat disentuh. Di negeri ini, yang sakral dikemas rapi agar tak mengganggu transaksi.
Burung Garuda berdiri limbung di tengah reruntuhan makna. Warna emasnya pudar, terkelupas oleh tangan-tangan rakus yang tak pernah kenyang. Matanya merah, bukan oleh debu zaman, melainkan oleh kebohongan yang setiap hari dipelihara. Ia menangis, tapi air matanya dianggap gangguan kekuasaan.
Bulu-bulunya rontok seperti daun kering di musim perampasan. Setiap helai jatuh bersamaan dengan lenyapnya gunung, hutan, dan isi perut bumi yang dijual atas nama kemajuan. Tanah dibedah, urat-urat alam disayat, lalu ditinggalkan seperti bangkai. Garuda hanya menyaksikan, tak lagi punya paruh untuk mencengkeram ketidakadilan.
Ia menangis melihat rakyat yang dicintainya berjalan di atas luka sendiri. Mereka hidup dari sisa-sisa, diberi remah sambil disuruh bersyukur. Kemiskinan dipoles dengan kata “bahagia”, penderitaan disulap menjadi statistik. Tangis rakyat dijinakkan agar tak terdengar sebagai perlawanan.
Di dadanya, lima sila tersamar seperti tulisan yang sengaja dikaburkan. Ketuhanan ditarik ke mimbar, lalu ditinggal di luar ruang kekuasaan. Kemanusiaan diperdagangkan, persatuan diperas, kerakyatan dipinjam sebentar, dan keadilan sosial dikubur hidup-hidup. Semuanya terhalang ambisi yang tumbuh liar tanpa malu.
Sayap Garuda berat oleh janji-janji yang tak pernah ditepati. Ia mencoba terbang, tapi udara dipenuhi asap kepentingan. Setiap kepakan diseret ke bawah oleh keserakahan yang menyamar sebagai kebijakan. Langit cita-cita berubah menjadi langit-langit rendah yang menekan kepala.
Di bawahnya, rakyat berdiri dengan mata kosong. Mereka tak lagi bertanya, sebab jawaban selalu melukai. Harapan dipelihara sekadarnya agar tak mati, tapi cukup lemah untuk tak melawan. Bahkan doa pun terdengar ragu, takut dianggap tidak nasionalis.
Garuda itu masih dipuja dalam upacara dan pidato. Dielu-elukan dalam lagu, dicetak di seragam, dipajang di kantor-kantor megah. Namun di luar itu, ia dibiarkan berdarah sendirian. Lambangnya dirawat, jiwanya dibiarkan membusuk.
Ia tak kuat lagi terbang membawa cita-cita bangsa ke angkasa. Sayapnya gemetar, tubuhnya condong ke bumi yang telah dirampas dari anak cucu. Ia melayang rendah, nyaris jatuh, sambil terus menangis. Tangis yang tak dicatat, tak dilaporkan, tak dianggap penting.
Dan di sanalah ironi paling kejam bersemayam. Sebuah bangsa yang mengaku menjunjung nilai luhur, sambil sibuk menanggalkan satu per satu. Garuda tetap hidup sebagai simbol, namun mati sebagai penuntun. Ia menangis bukan karena lemah, melainkan karena terlalu lama setia pada bangsa yang lupa cara setia. (Rls)
Jenis tukisan Opini


Social Footer