Breaking News

Di Balik Megahnya Angka MBG: Ada Tangisan Guru Honorer yang Tak Terdengar

Lampung,  Ungkap.id,-  Negara sedang sibuk merajut mimpi besar melalui piring-piring makanan, namun lupa bahwa tangan yang menyuapi ilmu sedang gemetar karena lapar.

Sejarah akan mencatat sebuah ironi besar, ketika sebuah bangsa mampu menggelontorkan triliunan rupiah untuk memastikan setiap anak mendapatkan asupan gizi, namun di saat yang sama, mereka membiarkan para pendidik anak-anak tersebut hidup dalam 'malnutrisi' kesejahteraan. Satuan Pelayanan Makan Bergizi Gratis (SPPG MBG) hadir dengan fasilitas mentereng, status ASN PPPK yang instan, dan jaminan kontrak yang kokoh. Di sisi lain, guru honorer yang telah berpuluh tahun menghapus papan tulis dan membentuk karakter bangsa, masih harus terjebak dalam upah 300 ribu rupiah yang dibayar tiap musim berganti.

Kita harus bertanya pada nurani: Apakah beton dapur umum lebih berharga daripada dedikasi seorang guru?

Memuliakan pegawai lapangan demi lancarnya sebuah proyek nasional adalah langkah teknis, tetapi mengabaikan guru honorer adalah langkah mundur dalam peradaban. Bagaimana mungkin kita mengharapkan generasi emas dari anak-anak yang kenyang, jika yang mengajar mereka adalah jiwa-jiwa yang sedang merana di bawah garis kemanusiaan?

Jangan sampai MBG hanya menjadi monumen kemegahan fisik yang berdiri di atas puing-puing kesejahteraan guru yang runtuh. Karena pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya dibangun dari apa yang masuk ke perut, tapi dari apa yang tertanam di dalam pikiran. Tanpa guru yang sejahtera, program semegah apa pun hanyalah cara mewah untuk menyamarkan kegagalan kita dalam menghargai kemanusiaan.  (Rls)

Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close